By : Susi Marlina
Mahasiswi S-3, University of Colorado
Saya ingin share testimony ini yang sebagian telah saya paparkan di milis beasiswa tentang pentingnya mindset dalam mengejar asa dan cita, demi kemajuan anak negeri, putera dan puteri daerah, serta negara tercinta.
…
Saya menyadari bahwa saya bukan anak jenius dan berbakat, yang bisa mengerjakan dan mendapatkan sesuatu dengan sedikit atau tanpa usaha. Buat saya motivasi, usaha, doa dan konsentrasi sangat penting. Saya adalah seorang anak daerah, yang lahir dan dibesarkan di daerah dengan segala kerterbatasan akses dan teknologi serta informasi.
Dilahirkan dari keluarga yang ekonominya pas-pasan, beasiswa adalah pilihan utama untuk bisa sekolah ke luar negeri dan bekerja sambil kuliah untuk sekolah di dalam negeri. Kegagalan demi kegagalan dalam mendapatkan beasiswa mewarnai kehidupan saya. Jangankan untuk sekolah ke luar negeri, untuk bisa diterima di universitas terbaik di pulau Jawa saja, saya kurang berhasil. Orang tua saya selalu bilang mereka hanya akan membiayai sekolah jika kami diterima sekolah negeri, tidak ada alasan untuk sekolah di swasta dengan alasan biaya. Seiring dengan berjalan waktu sekolah saya lancar dan cukup berprestasi tapi tidak sangat luar biasa.
Saya bercita-cita untuk menjadi dokter medis tetapi tiga kali kesempatan mengikuti UMPTN, semuanya berakhir diterima di perguruan tinggi negeri di provinsi tempat saya tinggal, dibidang yang saya sama sekali tidak mengerti. Akhirnya saya mencoba menekuni teknik sipil, cukup berat mengikuti perkuliahan dengan sistem pendidikan di Indonesia yang saya rasa sebagian kurang kondusif. Dengan alasan ekonomi dan nilai IPK yang kurang dari 3.0, saya hanya bisa menamatkan Diploma 3 di Fakultas Teknik.
Harapan saya tidak padam, saya ingin sekolah setinggi-tingginya dan sekarang target saya di luar negeri. Mungkin bisa dibilang ide gila, di universitas negeri di daerah saja saya tidak bisa diterima bagaimana dengan studi di luar negeri.
Pertama-tama saya mencoba melamar Asian Institute of Technology (AIT) di Thailand krn dari informasi yang kurang valid yang saat itu, saya bisa langsung melanjutkan ke Master. Dengan segala ‘keluguan’ saya, aplikasi beasiswa itu gagal. Kemudian saya berpikir, bagaimana kalau melanjutkan S1 ke universitas swasta dulu baru mencoba mencari S2 ke luar negeri. Saya hanya berpikir mungkin beberapa perusahaan/institus i akan melihat kompetensi seseorang berdasarkan IPK dan almamater, tapi bukan berarti orang seperti saya tidak bisa meraih kesempatan tersebut. Dengan mempertaruhkan gaji saya sekitar 10 bulan, saya membayar uang masuk sekolah di PTS dan saya lulus. Kembali karena saya melanjutkan D3 ke S1, tentunya sebagus apapun nilai saya di S1 belum bisa meningkatkan IPK saya secara drastic, masih tetap dibawah 3.0.
Kemudian saya mulai kerja di kontraktor/konsulta n dan semua berdasarkan kontrak, jika tidak ada proyek berarti tidak ada pekerjaan. Terkadang diskriminasi terhadap perempuan juga saya rasakan, dianggap pekerjaan teknik hanya milik pria. Keinginan untuk sekolah di LN tidak -pernah mati. Beberapa tahun kerja kontrak di perusahaan, saya lalu memulai karir saya di universitas swasta sebagai asisten laboratorium dengan harapan bisa jadi dosen dan sekolah ke luar negeri. Terlalu jauh untuk bermimpi saat itu dan sangat tidak realistis.
Setelah hampir satu tahun bekerja di laboratorium teknik sipil, satu orang dosen mengundurkan diri yang notabene juga sekretaris laboratorium. Dia juga sekretaris proyek di universitas yang diprediksikan untuk berangkat sekolah ke luar negeri. Akan tetapi dia mengundurkan diri karena diterima menjadi pegawai negeri sipil dan amanah orangtua nya sebelum meninggal adalah melihat anaknya menjadi pegawai negeri. Setelah perjuangan batin yang keras, dia mengundurkan diri. Kemudian dia mempromosikan saya untuk menggantikan posisinya dia sebagai sekretaris proyek yang sangat ditentang keras oleh kepala laboratorium dengan berbagai alasan. Tapi tetap saya diwawancara oleh beberapa asisten direktur hingga direktur dan diterima tanpa sepengetahuan kepala laboratorium. Dosen yang mengundurkan diri tersebut juga memberikan training kepada saya beberapa hari sebelum dia benar-benar meninggalkan kampus untuk menjalankan tugas sebagai sekretaris proyek. Ketika kepala laboratorium mengetahui saya akan menjadi sekretaris di proyek tersebut, dia sampai menghadap kepala yayasan meminta saya untuk kembali ke laboratorium dengan berbagai alasan yang saya kurang tahu. Setelah terombang ambing beberapa minggu, karena yang meminta saya adalah direktur dan asisten direktur yang notabene jabatannya dan pengaruhnya lebih besar, akhirnya saya bisa menjadi sekretaris proyek tersebut. Tapi tidak ada satu orang pun yang membicarakan kemungkinan saya bisa diberangkatkan ke luar negeri atau bisa menjadi dosen. Setelah 6 bulan menjadi sekretaris proyek, saya dipercaya untuk mengajar satu kelas dan terkadang menggantikan dekan mengajar mata kuliahnya. Kemudian pihak pimpinan memberi tantangan kepada saya, kami akan mengirimkan kamu sekolah ke luar negeri, full scholarship dengan catatan kamu bisa diterima sekolah tersebut, mengikuti test TOEFL atas biaya sendiri, dan mendapatkan visa. Setelah kamu siap berangkat semua dana termasuk application fee, TOEFL, dan visa akan kami ganti.
Mengajar dan proyek sangat menyita waktu saya dari pagi sampai tengah malam, bahkan sabtu dan minggu. Saya mencuri waktu di tengah-tengah pekerjaan, pagi-pagi sekali dan tengah malam, mempersiapkan TOEFL, aplikasi sekolah, dan lain-lain. Singkat kata akhirnya saya diterima di beberapa universitas di Netherland, Australia, dan Amerika Serikat.
Agustus 2004, saya berangkat sekolah di Amerika Serikat dan tahun lalu menyelesaikan master saya dengan GPA 3.93. Saya juga mendapatkan fellowship dari perusahaan swasta mengikuti IATSS Forum tahun 2006 di Jepang selama 2 bulan. Bahkan awal tahun ini, 2007 saya bisa melanjutkan S3 dengan tuition dibiayai oleh doctoral fund dan research di universitas yang sama di Amerika Serikat.
Saya yakin motivasi yang kuat dan mindset selalu berkembang bisa membuat seseorang mendapatkan impiannya. Saya banyak belajar dari berbagai kegagalan dan kesuksesan dan terus akan belajar. Kesempatan tidak hanya buat mereka yang IPK-nya lebih dari 3.0 dari universitas favorite, atau bagi mereka yang tinggal di ibu kota/kota besar tapi buat semua orang. Jangan pernah menyerah! Anything is possible!
Again, be passion, patient, and persistent!
Filed under: Pendidikan

Hi mbak Susi,
Salam kenal..
dari hasil googling saya dapat nama mbak..
saya juga salah satu calon peserta iatss forum utk batch 43, yg insyaalloh berangkat bln april 2008
moga2 bisa sharing pengalaman-nya..
btw, pengalaman mbak Susi is really inspiring..
sukses selalu ya mbak..
take care,
yayuk
Ibu Susi,
dengan membaca tulisan diatas, saya lebih mengenal lebih banyak tentang ibu
keinginan dan usaha yang keraslah yang akan menghantar ke pintu sukses
selamat dan sukses
trims
prayitno